Tuesday, January 26, 2010

Surga VS Neraka

Tahukah Anda perbedaan surga dan neraka? Konon, ruang makan di surga dan di neraka tidak ada bedanya. Menu makanannya persis sama. Jadi, apanya yang berbeda? Jawabnya: perilaku penghuninya.

Di neraka, saat jam makan tiba, segera para penghuninya saling berebutan masuk ruangan. Makanan disajikan di atas meja dan piring raksasa. Sendok dan garpu ukurannya juga raksasa.

Karena penghuni neraka adalah orang egois yang tidak rela melihat orang lain kenyang dan senang, maka yang terjadi kemudian adalah perang sendok dan garpu. Saat seseorang mulai menyendok makanan danberusaha memasukkannya ke mulut, segera sendoknya dipukul orang lain sehingga berantakan. Terjadilah kericuhan, tidak satu pun mau mengalah. Semua marah dan mengamuk.

Alhasil, ketika jam makan selesai, tak sesuap makanan pun yang masuk ke perut mereka. Semua makanan tumpah amburadul berserakan di lantai. Dengan perut yang tetap lapar, mereka keluar dari ruang makan dengan kesal, marah,dan emosi tinggi.

Bagaimana dengan suasana surga?

Saat lonceng jam makan berbunyi, dengan tertib penghuninya memasuki ruang makan dan mengambil tempat masing-masing. Begitu makanan disajikan, mereka mengawalinya dengan mengucap syukur dan berdoa. Karena sendok dan garpunya terlalu panjang, mereka saling menyuapkan makanan kepada saudaranya di seberang meja. Mereka saling melayani satu sama lain.

Saat jam makan selesai, tak secuil pun makanan tercecer. Semua kenyang, bahagia, dan saling berterimakasih.

* * * * *

Saling melayani. Itulah pesan cerita di atas. Inilah Etos 8. Sebagai makhluk sosial kita dituntut untuk mampu memperhatikan dan di mana perlu mendahulukan kebutuhan orang lain daripada mengedepankan ego pribadi. Jika ini terjadi, suasana akan lancar dan nikmat. Orang yang dilayani merasa puas, sehingga timbullah rasa senang yang menggerakkan budi untuk sebaliknya melayani.

Maka, marilah menjauhi sikap penghuni neraka. Kadang, kita merasa puas karena berhasil menggagalkan usaha orang lain. Namun kepuasan seperti ini adalah kepuasan orang yang sakit jiwa. Lebih daripada itu, dengan berbuat demikian sebenarnya kita juga sedang menghancurkan diri sendiri karena hal itu mengundang balas dendam. Alhasil, hidup kita terperangkap dalam sebuah dunia yang dipenuhi angkara murka untuk saling mencelakakan.

Etos ini mengimbau kita agar mempunyai hati dan jiwa pelayanan. Semaikanlah sikap luhur ini, karena dengan demikian niscaya kita lebih sukses, tentram dan bahagia.

Hikmah lain kisah di atas pasti bisa anda ambil sendiri.

No comments:

Post a Comment